Search This Blog

Friday, December 10, 2010

Negeri Gigolo, Pelacur, Germo, dan Preman

Negeri Gigolo, Pelacur, Germo, dan Preman
Rabu, 01/12/2010 06:34 WIB

Razia PSK (foto: beritajakarta.com)
Bejatnya moral sampah masyarakat yang menyebarkan penyakit berbahaya, yakni gigolo, pelacur, germo, dan preman yang tersebar di mana-mana telah meresahkan masyarakat.
Lebih meresahkan lagi ketika mereka ini beroperasinya di alun-alun depan masjid hampir di setiap kota. Semua orang tahu, namun gejala yang sangat meresahkan itu tetap berlangsung. Dibiarkan tingkah busuk itu menyengat perasaan bagi setiap orang yang beriman.
Entah kenapa, apakah memang ada yang memelihara, kadang sampah-sampah masyarakat itu justru tampak berani sekali.
Gejala buruk itu telah meresahkan masyarakat. Bila dibiarkan, maka akan menghancurkan kehidupan masyarakat. Secara akal pun telah tampak bahayanya. Sedang secara agama, maka ada ancaman keras dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung (negeri) maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (HR. Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).
Rusaknya masyarakat akibat “dipeliharanya” gigolo dan pelacur di antaranya tergambar seperti ini:
• Seorang gigolo (lelaki pelacur) di Surabaya mengaku, ia lebih sering mendapat klien perempuan yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan wanita karir, berusia 30 hingga 45 tahun, sudah berumah tangga, dan sudah punya anak.
• Isteri gigolo di Bali yang diwawancarai pada film dokumenter Cowboys in Paradise mengaku, sang suami ada kalanya membawa ‘klien’ khususnya ke rumah. Bila hal itu terjadi, maka sang istri mengalah, sama sekali tidak sekamar dengan sang suami yang sedang menjalankan profesinya sebagai gigolo. Hal tersebut bisa berlangsung berhari-hari.
• Dari 1.500 wanita pelacur yang tercatat di kota Denpasar Bali, seperlimanya atau 20 persen di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS. Selain mengidap HIV/AIDS, ada beberapa pelacur itu terserang penyakit infeksi menular seksual (IMS), kata Sri Mulyanti, asisten koordinator KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kota Denpasar, Selasa (23/11) 2010 sebagaimana diberitakan hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27)
• Tidak sedikit wanita yang berzina kemudian hamil, lalu mereka nekat meneruskan dengan kejahatan baru lagi yakni aborsi (pengguguran kandungan). Penelitian di 10 kota besar dan enam kabupaten di Indonesia memperkirakan sekitar 2 juta kasus aborsi, 50 persennya terjadi di perkotaan. Padahal pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada sembilan belas resiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita. (lihat nahimunkar.com, February 1, 2009 10:08 pm, Sembilan Belas Bencana Akibat Aborsi, http://www.nahimunkar.com/233/)

Kampung gigolo
Boyolali adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Tengah, yang memiliki 262 desa. Dua desa di antaranya, Cabean dan Bakalan, dikenal sebagai ‘produsen’ gigolo. Sehari-hari, dari pagi hingga siang, para gigolo beraktivitas sebagaimana biasanya, seperti membuat keranjang ayam untuk dijual ke pasar. Namun, begitu senja menjelang, mereka berganti profesi menjadi gigolo.
Pada umumnya, para gigolo ini merupakan pelajar putus sekolah. Mereka menjalankan aktivitas gigolo melalui mucikari atau independen dengan cara langsung terjun menjajakan diri di pinggir jalan. Targetnya, tante girang dan om senang. Di kawasan ini mudah ditemukan sejumlah salon yang berperan ganda sebagai tempat memoles para gigolo.
Keberadaan kampung gigolo Boyolali, meski pernah diungkap Tim Sigi SCTV pada 24 Maret 2010, namun sepertinya tidak menarik perhatian media massa lainnya, bahkan cenderung ditenggelamkan oleh kampung gigolo Bali. Apalagi, setelah kehadiran film dokumenter berjudul Cowboys in Paradise (sekitar April 2010), yang menggambarkan kehidupan dan aktivitas gigolo di sekitar Pantai Kuta, Bali.
Gigolo Surabaya
Pada hari Selasa tanggal 16 November 2010, di Surabaya aparat kepolisian setempat menangkap Ahmad Mas’ud alias Vino alias Daud (21 tahun) yang berprofesi sebagai germo gigolo. Ia mengelola praktik prostitusi gigolo berusia belasan tahun, umumnya masih menyandang status sebagai pelajar SMA.
Ahmad Mas’ud adalah warga Semamper, Surabaya, Jawa Timur, dan bagian dari jaringan gigolo yang dikendalikan oleh Ahmad Sidik alias Ujang (35 tahun), warga Desa Kamojing Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Praktik prostitusi gigolo ini dikemas Ahmad dalam bentuk layanan pijat 24 jam yang diiklankan melalui media lokal. Pada iklan tersebut, disertakan nomor telepon untuk memudahkan kontak.
Saat tertangkap, Ahmad Mas’ud sedang membawa serta dua gigolo binaannya, yaitu IWG (17 tahun) dan RST (18 tahun). Keduanya masih duduk di bangku SMA kelas XII, dan sudah menjalani praktik prostitusi (pelacuran) ini sejak dua bulan lalu, dengan bayaran antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Separuh dari tarif itu, masuk ke kantong Ahmad Mas’ud. Berdasarkan Undang Undang Perdagangan Manusia, Ahmad Mas’ud bisa dikenai ancaman hukuman
Fenomena gigolo sudah sedemikian mengindustri. Bahkan, para germo gigolo Surabaya menyediakan fasilitas garansi: uang kembali bila “klien” tidak puas. Astaghfirullah, untuk urusan maksiat mereka begitu serius mengelolanya, seperti penjual mobil profesional yang menyediakan garansi.

Membahayakan kehidupan
Itu masih pula ditambah dengan pelacur dan germo plus preman yang semuanya sangat membahayakan kehidupan. Kasus-kasus dan data berikut ini sebagai bukti nyata.
"Karena perilaku mereka paling beresiko menularkan ataupun sebaliknya tertular virus mematikan tersebut," katanya.
Seperti diketahui, ucapnya, penyebab penularan virus HIV/AIDS yang masih tinggi adalah perilaku melakukan hubungan seks berganti-ganti pasangan. Perilaku itulah yang membuat para penjaja seks tersebut, katanya, menjadi salah satu kelompok yang paling beresiko. (lihat hidayatullah.com, Wednesday, 24 November 2010 08:27)

Ketika maksiat jadi dagangan
Ketika maksiat zina dan semacamnya justru dijadikan barang dagangan, maka seolah kejahatan itu dipelihara. Dan memang kemungkinan ada yang memeliharanya. Oleh karena itu ketika kejahatan --yang cepat atau lambat pasti akan merusak dan meresahkan-- ini diupayakan untuk diberantas, maka kadang para penjahatnya berani mengamuk. Inilah contoh-contoh kasusnya:
Puluhan Preman ”Ngamuk” di Stasiun Klender, Sejumlah Petugas Stasiun Luka-luka

Fahmi Firdaus - Okezone
JAKARTA - Puluhan preman mengamuk, di Stasiun Kereta Api Klender, Jakarta Timur, Sabtu, malam 11 April 2009 dan merusak sejumlah alat-alat pengatur perjalanan kereta api serta mikrofon yang berada di dalam kantor stasiun.
Aksi pengerusakan itu dipicu oleh penertiban gubuk-gubuk liar di sekitar Stasiun Klender yang dilakukan petugas PT KA beserta Polsek Pulogadung Sabtu siang. Gubuk-gubuk tersebut dibongkar karena menjadi sarang prostitusi di sekitar wilayah Stasiun Klender.

Pelacur dan Germo Perangi Petugas
BOGOR (Pos Kota) – Pembongkaran warung remang-remang (warem) tempat mangkal pelacur di Jalan Raya Parung, Bogor, Senin (20/4) bentrok. Pemilik warem, germo dan pelacur bersatu melawan petugas.

Perang batu pun tak terhindarkan.
Pemilik menolak dibongkar karena tak mempunyai pekerjaan dan keahlian, sedangkan germo protes dan menuding petugas tebang pilih. “Jika dibongkar kita lawan!” teriak seorang pemilik warung . Gertakan ini tak membuat nyali petugas menciut. Mereka tetap membongkarnya pakai beko.
Suasanan memanas ketika Ny Nara,36, menghadang petugas di depan rumahnya yang akan dibongkar. Suaminya, Asep,38, berdiri di atap rumah lalu melempar genteng ke arah petugas. Akibatnya Ny Nisa, ibunda Ny Nara, kepalanya bocor tertimpa genteng.

GERMO PROTES
Petugas kembali dihadang Santi 43, germo yang panti pijatnya dirobohkan. Wanita ini berteriak, agar petugas jangan tebang pilih. Sebagian pelacur ikut melawan.
”Kalau mau jujur, semua bangunan di sini menyediakan wanita muda yang siap melayani. Saya protes, kenapa warung sate itu yang menyediakan pelacur, tidak dibongkar ini tidak adil,” teriak Santi.
Menurut informasi, bisnis esek-esek di lokasi itu keuntungannya sangat besar. Tarif pelacur Rp 150-200 ribu dan germo dapat setengahnya. ”Satu warem dihuni sedikitnya 6 pelacur. Belum dari minuman,” sebut satu warga. (yopi/iwan/ird/B) poskota.co.id, Selasa 21 April 2009, Jam: 9:52:00

Terbakarnya 24 gerbong kereta gara-gara pelacur
Terbakarnya 24 gerbong kereta api di Stasiun Rangkasbitung, Banten, 11 Oktober 2010 ternyata gara-gara pelacur yang mangkal di gerbong itu dan ulah orang yang mau memakainya.
Kenapa gerbong dibiarkan ditempati pelacur ya?
Inilah contoh kasusnya. Seharusnya para pejabat atau yang berwenang merasa tertampar mukanya. Ini baru contoh kasus saja:

Sang Pembakar Kereta Akhirnya Buka Mulut
Liputan 6 - Minggu, 24 Oktober
Liputan6.com, Lebak: Tersangka pembakar kereta Hery alias Saeful sudah mulai tenang saat ditemui wartawan di sela-sela pemeriksaan penyidik Kepolisian Resor Lebak, Banten, Sabtu (23/10). Hery yang kejiwaannya dikenal labil, bahkan menjawab sejumlah pertanyaan wartawan.
Dalam penjelasannya, Hery mengaku pembakaran kereta dilakukannya antara sengaja dan tidak sengaja. Sekitar jam 11 malam, tukang sapu gerbong kereta ini berusaha merayu Nur, pelacur yang biasa mangkal di gerbong stasiun. Namun karena Hery hanya menjanjikan bayaran Rp 5.000, pekerja seks komersial itu menolak ajakannya. Warga Kabupaten Serang, Banten, ini marah lalu membeli bensin, yang awalnya akan digunakan untuk membuat Nur mabuk. Tapi, lagi-lagi Nur menolak.
Saat berusaha memaksanya meminum bensin itulah sebagian bahan bakar minyak itu dalam kantong plastik tercecer di gerbong tiga, empat, dan lima. Sadar bahwa usahanya gagal, Hery kemudian menumpahkan bensin tersebut di luar gerbong, kemudian membakarnya. Saat itulah, api langsung menyambar ruang dalam gerbong lima dan menjalar ke gerbong lainnya.

Pengabdi Syetan
Bahaya pelacuran telah sangat nyata. Bahaya yang tidak diperkirakan dan belum pernah terjadi seperti dibakarnya 24 gerbong kereta api pun terjadi gara-gara pelacuran. Gerbong ditempati untuk pelacuran. Namun anehnya, pelacuran dengan aneka sarananya tampak dibiarkan. Bahkan video zina para artis (Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari) yang tersebar ke seantero dunia, sangat memalukan dan mengakibatkan rusaknya moral pun pelaku-pelaku zinanya tidak dihukumi apa-apa mengenai zinanya. Padahal pelakunya mengakui. Astaghfirullah, ini negeri apa? Hanya syetan saja yang tidak mau tahu bahwa zina itu dosa besar dan harus dijatuhi hukuman, serta tidak boleh ada yang membelanya. (Anehnya, Ariel tokoh pezina itu justru dikabarkan ada 10 pembelanya, sedang zinanya pun tidak dipersoalkan).

Sebenarnya hukuman bagi pelaku zina itu sudah jelas dan tegas
Lelaki zina yang belum pernah menikah (ghoiru muhshon) didera 100 kali dan dibuang selama setahun. Sedang perempuan zina ghoiru muhshon (belum pernah nikah) cukup didera 100 kali tanpa diusir dari negerinya.
Perkataan Ibnu Umar:
Bahwasanya Nabi saw telah mendera dan membuangnya. Abu Bakar telah mendera dan membuangnya. Dan Umar pun mendera dan membuangnya. (HR. At-Tirmidzi).
Jika pelaku zina itu lelaki atau perempuan muhshon (telah pernah menikah secara sah dan bersetubuh, lalu melakukan zina) maka dirajam yaitu dilempari batu sampai mati.
Nabi saw pernah merajam wanita Ghamidiyyah dan Ma’iz serta pernah merajam dua orang Yahudi. (dalam Hadits shahih). (Lihat Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, halaman 434).
Orang yang melakukan liwath (homoseks atau lesbian, bersetubuh melalui lubang dubur yang bukan suami isteri) hukumannya dirajam sampai mati, tanpa membedakan muhshon atau ghoiru muhshon. Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa di antara kalian menemukan orang yang melakukan perbuatan kau Luth (homoseks), maka bunuhlah (kedua-duanya) pelaku dan yang diperlakukan homoskes. Dan barangsiapa kalian temukan dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuh pula binatangnya. (HR. Imam Ahmad dan empat Imam, rijalnya tsiqot/terpercaya, hanya saja ada ikhtilaf, perbedaan pendapat/Subulus Salam, juz 2).
Di samping hukuman di dunia ditegaskan, masih pula ada ancaman:

1. Bencana di dunia
Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah tha’un (pes) dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR. Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).
Dari Ibnu Abbas rhadhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu kampung maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (HR. Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

2. Adzab siksa neraka di akharat kelak.
Dalam hadits shahih yang panjang riwayat Imam Al-Bukhari, diriwayatkan (kami petik potongan-potongannya mengenai zina):
Dari Abi Raja’, telah menceritakan kepada kami Samurah bin Jundab radhiallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam seringkali mengatakan kepada para sahabatnya; "Apakah diantara kalian ada yang bermimpi?" Kata Samurah; maka ada diantara mereka yang menceritakan kisahnya.Suatu saat ketika subuh, beliau berkata: "Semalam aku didatangi dua orang, keduanya mengajakku pergi dan berujar; 'Ayo kita berangkat! ' Aku pun berangkat bersama keduanya,…' Maka kami berangkat, hingga kami mendatangi suatu tempat seperti tungku." Kata Abu Raja, seingatku Samurah mengatakan; "Tungku tersebut mengeluarkan suara gemuruh. Lantas kami melihat isinya, tak tahunya disana ada laki-laki dan wanita telanjang, mereka didatangi oleh sulut api dari bawah mereka, jika sulutan api mengenai mereka, mereka mengerang-ngerang. Maka saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'apa sebenarnya dengan orang-orang ini? Namun kedua orang yang membawaku hanya berujar; 'Ayo kita berpindah ke tempat lain! '…Adapun laki-laki dan wanita yang telanjang dalam bangunan seperti tungku, mereka adalah laki-laki dan wanita pezina… (Shahih, HR Al-Bukhari nomor 6525)

Semua yang terlibat akan diseret
Siksa itu akan menimpa para pezina yang tidak bertaubat, yang sampai matinya belum bertaubat benar-benar. Bahkan bukan hanya para pezina saja yang akan terkena adzab api di dalam bangunan tungku yang penghuninya telanjang, dibakar api dan mengerang-ngerang itu. Siapa saja yang terlibat maka akan mereka seret agar ikut disiksa.
Demikian pula, tidak perduli, apakah ketika di dunia berjulukan da’i semiliun umat atau apa, bila memang di dunia terlibat maka kelak tidak dapat lagi berkilah. Apalagi kilah dengan istilah yang dibikin-bikin, misalnya islah dan sebagainya.Tidak perduli pula, walau yang terlibat itu tokoh partai berlabel agama sekalipun, ketika bersuara simpati kepada pezina bahkan mau menampungnya, tidak ada kilah-kilah lagi bahwa itu untuk menggelembungkan suara partainya agar mampu melancarkan da’wah lewat parlemen di sana. Tidak bisa. Pokoknya mereka yang terlibat akan diseret pula untuk mempertanggung jawabkan kelakuan dan ucapannya. Betapa ngerinya!
Ancaman yang lebih mengerikan pula adalah terhadap orang-orang yang membiarkan berlangsungnya kekejian (zina). Dalam hadits ditegaskan:

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Tiga golongan yang Allah mengharamkan surga atas mereka, pecandu khamer, anak yang durhaka kepada orang tua, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ nomor 3052, dalam Al-Jami’ As-Shaghir wa ziyadatuh nomor 5363).
Ketika kepala keluarga mendiamkan keluarganya berbuat kekejian, maka dia dayyuts, telah Allah haramkan masuk surga. Bagaimana pula ketika orang menjadi kepala RT (rukun tangga), RW (rukun warga), jadi lurah, camat, bupati, atau walikota, bahkan lebih atas dari itu seperti gubernur dan bahkan penguasa negeri bila membiarkan warganya berbuat kekejian? Maka ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu perlu difahami benar, dan diyakini benar-benar, hingga jangan sampai termasuk yang diancam itu. Kenyataannya, mereka masih saja seolah tutup mata, padahal banjir maksiat telah melanda di mana-mana.
Tidak takut siksa neraka kah mereka? Dan ingin diharamkan masuk surga kah mereka?
Na’udzubillahi min dzalik! (kami berlindung kepada Allah dari yang demikian).
*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, penulis buku Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam.
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/meresahkan-gigolo-pelacur-germo-dan-preman-merajalela.htm

No comments:

Post a Comment